Sunday, October 19, 2014

Artikel Politik


Pesan Prabowo Subianto: Sahabatku Sekalian...


  •  Politik

  • Jokowi Dan Prabowo
    Jokowi Saat Mengunjungi Prabowo (Liputan6.com\Herman Zakharia)
    Liputan6.com, Jakarta - Beberapa jam setelah bertemu dengan Presiden terpilih Jokowi atau Joko Widodo, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang keduanya bertarung pada Pemilihan Presiden 9 Juli lalu, menyampaikan pesan rekonsiliatif kepada rakyat Indonesia, terutama pendukungnya.
    Dalam pesannya itu, Prabowo menyatakan diri sebagai orang yang selalu ingin menjaga persatuan nasional, berjiwa ksatria dan memelihara silaturahmi, persahabatan dan persaudaraan, sehingga dia mengajak pendukungnya untuk bersahabat dengan pihak yang dulu menjadi lawannya.


    "Kita harus ingat bahwa pihak yang berseberangan dengan kita dalam sebuah pertarungan politik tidak serta-merta dan tidak otomatis harus menjadi musuh kita. Dari sejak awal saya katakan bahwa pesaing kita adalah saudara kita juga," tulis Prabowo dalam akun Facebook-nya itu, seperti dikutip pada Sabtu (18/10/2014).

    Dalam pesan 885 kata itu, Prabowo mendaulat Jokowi sebagai patriot yang seperti dirinya menginginkan yang terbaik untuk Indonesia.

    "Oleh karena itu saya memilih untuk membangun silaturahmi dengan beliau, sesuai dengan ajaran-ajaran budaya nenek moyang kita," tulis Prabowo dalam akun Facebook-nya yang hingga berita ini diturunkan sudah di-share atau dibagikan sebanyak 10.003 dan sekitar 205.351 'like' tersebut.

    Berikut pesan rekonsiliatif lengkap Prabowo Subianto yang didahului dengan kalimat 'Sahabatku sekalian' itu dalam akun Facebook-nya.

    Sahabatku sekalian,

    Saya tahu banyak diantara kalian yang merasa masih tidak menerima, masih terluka, karena kita telah dikhianati oleh sistem yang tidak baik. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa kita harus menimbulkan perpecahan di bangsa kita.

    Seperti sahabat ketahui, dalam berpolitik saya selalu mengutamakan keutuhan bangsa dan kejayaan Republik Indonesia. Saya paham bahwa ada negara-negara tertentu yang selalu ingin Indonesia pecah. Ada yang ingin rakyat Indonesia tetap tergantung sama mereka. Karena itulah saya ingin menjaga persatuan nasional.

    Setelah saya renungkan mendalam, saya melihat di pihak PDIP dan koalisi mereka masih banyak patriot-patriot, anak-anak Indonesia yang juga cinta bangsa dan negara dan rakyat. Karena itulah saya memilih untuk terus berjuang untuk nilai-nilai yang kita pegang teguh yaitu Pancasila, UUD 1945 yang utuh dan asli, NKRI dari Sabang sampai Merauke yang kuat, yang adil, yang sejahtera, yang berdiri di atas kaki kita sendiri dan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

    Saya akan terus perjuangkan nilai-nilai itu, tetapi dalam kerangka senantiasa menjaga jangan sampai terjadi perpecahan di antara sesama bangsa Indonesia. Kita harus ingat bahwa pihak yang berseberangan dengan kita dalam sebuah pertarungan politik tidak serta merta dan tidak otomatis harus menjadi musuh kita.

    Dari sejak awal saya katakan bahwa pesaing kita adalah saudara kita juga. Memang ada pihak-pihak yang penuh kebencian, prasangka buruk, keserakahan, kedengkian dan jiwa yang curang. Tapi ingat dari awal saya menganjurkan kepada lingkungan saya, pendukung saya, sahabat-sahabat saya, apa yang saya tuntut dari diri saya sendiri yaitu berjiwalah sebagai seorang kesatria, sebagai seorang pendekar. Kalau ada pihak yang menebarkan kebencian, fitnah, kepada kita bukan berarti kita harus balas dengan sikap yang sama. Janganlah fitnah kita balas fitnah, janganlah kebencian kita balas kebencian. Janganlah kita bertindak sebagai individu yang berjiwa Kurawa.

    Itulah sikap saya, dan karena itulah saya memilih jalan yang saya tempuh sekarang. Bukan berarti kita merendahkan nilai-nilai kita atau perjuangan kita. Semakin kita merasa benar, semakin pula kita harus rela menghormati orang lain, pihak lain. Kalau orang lain menghormati kita, kita menghormati orang tersebut. Bahkan kalaupun mereka tidak hormat pada kita, tidak ada salahnya kita menghormati terus.

    Saya mohon semua pendukung-pendukung saya untuk memahami hal ini. Saya mengerti sebagian dari saudara-saudara belum bisa menerima sikap saya. Tetapi percayalah, seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian.

    Sahabat, kita bukan pihak penakut. Sejak dari masa muda, saya pernah hidup sebagai seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Berkali-kali saya terlibat dalam operasi-operasi militer, dalam kontak-kontak tembak dengan musuh negara. Saya paham apa artinya kekerasan. Karena itulah saya sadar bahwa seorang pemimpin sejati, pemimpin yang bertanggung jawab selalu harus memilih jalan yang sejuk. Apalagi kalau ini adalah untuk menjaga kepentingan, keutuhan bangsa yang kita cintai.

    Sahabat, kita harus tetap militan, kita harus tetap patriotik. Kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Kalau kita hormat bukan berarti kita menyerah. Kalau kita sopan bukan berarti kita meninggalkan perjuangan kita. Tapi kita harus selalu berusaha mencari jalan yang damai, jalan yang baik. Kita harus selalu mengutamakan persaudaraan dan persahabatan.

    Kalau semua usaha kita, pada saatnya nanti tetap tidak membuahkan sebuah hasil yang sesuai dengan kepercayaan dan cita-cita kita, dan keyakinan kita akan kepentingan bangsa dan rakyat, kalau bangsa Indonesia terancam, kalau kekayaan bangsa terus dirampok oleh bangsa lain, kalau kita sudah sekuat tenaga menciptakan kesadaran nasional, sebagai patriot dan pendekar bangsa kita harus tidak ragu-ragu mengambil tindakan yang dituntut oleh keadaan.

    Saya sekali lagi menganjurkan kepada sahabat saya dan pendukung saya, marilah kita terus tegar. Marilah kita memperkuat diri, marilah kita menambah barisan kita. Yakinkan lingkungan kita semuanya, bangkitkan kesadaran nasional kita. Dulu saat Bung Karno bersama para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan, mereka pun berpuluh tahun harus membangun kesadaran nasional. Sekarang pun kita harus membangun kesadaran nasional, bahwa kita saat ini sedang diancam oleh bangsa-bangsa asing yang selalu ingin Indonesia pecah, Indonesia lemah dan selalu tergantung.

    Dalam pertemuan saya dengan saudara Joko Widodo tadi saya sampaikan, bahwa saya merasakan di dalam hati sanubari Joko Widodo yang paling dalam beliau adalah seorang patriot. Beliau ingin yang terbaik untuk Indonesia. Oleh karena itu saya memilih untuk membangun silaturahmi dengan beliau, sesuai dengan ajaran-ajaran budaya nenek moyang kita.

    Apalagi agama Islam yang saya anut, mengajarkan saya bahwa menjalin dan memelihara silaturahmi, persahabatan dan persaudaraan jauh lebih mulia dan bermanfaat daripada meneruskan prasangka buruk, rasa curiga, apalagi terjerat dalam kebencian dan permusuhan. Ibarat api tidak bisa dipadamkan dengan api, maka kebencian dan fitnah mari kita balas dengan berbudi luhur, berjiwa kesatria. Semakin difitnah, semakin difitnah, semakin dihina, kita akan semakin tegar.

    Saya minta sahabat sekalian janganlah ragu kepada pilihan-pilihan saya. Janganlah mendorong saya untuk mengambil sikap yang tidak sesuai dengan jiwa saya sebagai ksatria. Janganlah mengira saya akan surut dalam perjuangan saya.

    Saya juga telah sampaikan kepada saudara Joko Widodo bahwa perjuangan saya adalah membela UUD 1945 yang lahir 18 Agustus 1945, membela keutuhan NKRI, membangun suatu bangsa ber-Bhinneka Tunggal Ika yang aman, damai, kuat, adil, makmur dan sejahtera. Beliaupun menyatakan bahwa itu juga pegangan beliau. Saya juga katakan, kalau nanti dalam perjalanan Pemerintahan beliau ada kebijakan-kebijakan yang kurang menguntungkan rakyat, apalagi melanggar Pancasila dan UUD 1945 maka kami tidak akan ragu-ragu menyampaikan kritik kepada Pemerintah. Beliau menyambut ini dengan baik, dan beliau juga menyampaikan sewaktu-waktu akan mengundang saya untuk meminta pendapat dan masukan dari saya.

    Terima kasih, saudara-saudara. Sahabatku dimanapun berada.

    Wassalamualaikum.

    Salam Indonesia Raya,

    Prabowo Subianto, 17-10-2014

    Credit: Anri Syaiful
    (Sumber : Liputan6.com)

    Jokowi-Ahok Akhirnya 'Bercerai'

     Politik

    Jokowi-Ahok akhirnya 'bercerai'.
    Jokowi-Ahok akhirnya 'bercerai'. (Liputan6.com/Sangaji)
    Liputan6.com, Jakarta - "Saya dan istri dan keluarga minta maaf jika ada yang kurang berkenan," demikian sepenggal kata yang meluncur dari mulut Presiden terpilih Jokowi di hadapan para jajarannya di Pemprov DKI Jakarta dan ribuan warga, saat 'bercerai' dengan partnernya Ahok dari jabatan Gubernur DKI.

    Setelah menyampaikan ucapan perpisahan, kini pria bernama lengkap Joko Widodo itu hanya tinggal menunggu hari pelantikannya sebagai Presiden RI.
    Keputusan Presiden (Keppres) terkait pemberhentian dirinya telah disahkan Presiden SBY dan diterima di kediaman dinas Gubenur DKI, Jalan Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis (16/10/2014) pagi.

    "Sebetulnya pada hari ini saya sudah bukan Gubernur Jakarta lagi. Karena pagi tadi surat dengan tanda tangan Presiden sudah ada," ungkap Jokowi dalam acara Silaturahmi Gubernur dengan Pengurus dan Anggota Lembaga Kemasyarakatan.

    Namun, ia menegaskan agar warga DKI tetap yakin dan percaya bahwa Jakarta merupakan bagian penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh sebab itu, persoalan yang terjadi di Jakarta sebagai ibukota negara juga merupakan tanggung jawab Presiden RI.

    Meski sudah tak lagi menjadi orang nomor 1 di Jakarta, Jokowi mengatakan dirinya pada Jumat 17 November besok masih akan ke Balaikota Jakarta. Namun, kedatangannya bukan untuk bekerja, melainkan mengemasi barang-barang miliknya dari ruang kerja Gubernur DKI Jakarta.

    "Besok kan kemas-kemas di kantor, masukkan ke dus, dibawa pulang," ungkap Jokowi.
    Janji Jokowi

    Tak lagi menyandang status Gubernur DKI Jakarta, Jokowi berjanji pemerintah pusat di bawah kepemimpinannya akan membantu pemerintah DKI dalam menyelesaikan berbagai persoalan Jakarta.

    "Percayalah DKI ini merupakan bagian penting dari NKRI. Oleh sebab itu persoalan di Jakarta juga tanggung jawab presiden," tutur Jokowi disambut riuh tepuk tangan.

    Suami Iriana itu juga mengungkapkan dirinya ingin mempercepat berbagai program penanganan banjir dan transportasi di Jakarta yang bersinggungan dengan Pemerintah Pusat dan provinsi lainnya. Namun, ia menegaskan tentunya hal itu membutuhkan kerja keras Gubernur DKI dan jajarannya mulai dari sekda, kepala dinas, camat, lurah, hingga ketua RT dan RW.
    Begitu pun dengan pembebasan tanah untuk pembangunan Waduk Ciawi di Bogor, Jawa Barat. Jokowi berjanji hal itu bakal selesai tahun depan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas PU DKI Jakarta akan didorong untuk bekerja cepat agar target pembangunan selama 2 tahun tercapai.

    "Saya yakin dengan gubernur baru, Pak Basuki (Ahok), nantinya dengan didukung pemerintah pusat kecepatan pembangunan di DKI akan lebih cepat lagi," papar Jokowi.

    Jokowi pun berpesan agar meningkatkan kualitas kerja serta bekerja sama dengan Ahok yang sebentar lagi menduduki kursi kepala daerah.

    "Saya titip kepada seluruh warga DKI untuk dukung penuh Pak Basuki (Ahok)," ungkap pria kelahiran Solo itu.
    Pada kesempatan itu, Jokowi juga mengungkap sedikit sosok mantan bupati Bangka Belitung, Ahok.
    "Saya mau cerita sedikit soal Pak Ahok. Orangnya memang keras dan kalau bicara tajam. Tapi saya ingin membuka apa adanya," ucap Jokowi.

    "Pak Ahok ini hatinya sangat lembut. Kalau ada yang datang terus nangis, Pak Ahok langsung terenyuh pasti langsung diberi," imbuh dia yang disambut tawa hadirin.

    Jokowi pun melanjutkan guyonan. Mantan Walikota Solo itu menyarankan warga untuk menangis apabila ingin bertemu Ahok. Sebab cara itu dapat meluluhkan hati sang calon Gubernur DKI yang dikenal tegas tersebut.
    Setelah resmi 'bercerai' dengan Ahok -- lepas jabatannya sebagai Gubernur DKI, kini Ahok pun otomatis menyandang status Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta.
    Ahok Grogi Ditinggal Jokowi?
    Usai salam perpisahan Jokowi diucapkan, sosok Ahok terlihat grogi mendampingi di atas panggung. Ia --- yang hari ini berstatus sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta-- pun terlihat bingung untuk menyalami pria berperawakan tinggi kurus itu.
    Sekitar beberapa detik diam dan kaku, Ahok pun kemudian menyampaikan sepatah kata menyambut ucapan perpisahan Jokowi.

    "Sebetulnya dari tadi saya tahu beliau sudah dapat surat (Keppres). Jadi ini presiden ke-7," ucap Ahok yang berdiri di samping Jokowi.

    Melihat gelagat Ahok yang tak biasa, salah satu pembawa acara pun menggoda. Pantun yang menyebut Ahok yang biasanya galak hari ini terlihat grogi pun dilontarkannya. Sontak para hadirin pun tertawa.

    Suami Veronica Tan itu mengaku, selama 2 tahun memimpin Jakarta bersama-sama, dia banyak belajar dari figur Jokowi. Seperti terutama sikap santun dan kerendahan diri Presiden terpilih itu. Meski hingga kini hal itu masih belum bisa diterapkannya.

    "Saya udah lebih baik, jinak, karena belajar dari wong Solo. Istri saya sering nanya kenapa selalu pakai baju Solo (batik)? Ya karena dikasih terus dari Pak Jokowi. Hehehe," ucap Ahok.

    Ahok yang akan menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, meminta didoakan agar nantinya dirinyatidak bertambah galak setelah ditinggal koleganya itu.

    "Doakan saya supaya nanti tidak ada Pak Jokowi, saya tidak boleh terlalu galak," ujar Ahok.

    Menurut Ahok, selama ini Jokowi mampu mengimbangi sikap tegas dan menggebu-gebunya. Lalu ia dapat berlindung di balik Jokowi saat dirinya diserang karena pernyataan-pernyataannya yang kerap kontroversial hingga menyinggung beberapa pihak. (Ado)

    (Sumber : Liputan6.com)




    No comments:

    Post a Comment